2100
Karya : Hani
Ulima A
|
J
|
ika banyak orang yang
bermimpi untuk tetap hidup sampai tahun ini, maka aku satu-satunya orang yang
tak menginginkan hal itu. Tak ada kesenangan bagiku yang menyandang status sebagai Generasi Beta;
generasi setelah generasi Alpha, yang kata orang generasi terpintar juga
tercanggih. Seiring dengan pertumbuhan kami, teknologi juga ikut berkembang bak
makhluk hidup.
Tak ada bis atau mobil
yang berkeliaran di jalan lagi. Tak ada pula motor yang saling menyalip dengan
keegoisan si pengemudi. Hal-hal seperti itu telah tergantikan oleh kehadiran helicar; si mobil terbang yang canggih.
Monorel yang dulunya menjadi sesuatu yang canggi di masanya, kini tak lebih
dari sekadar kendaraan murahan seperti sepeda bobrok.
Apakah hidup di jaman
seperti itu menyenangkan?
Tidak. Maksudku, bagian
manakah yang menyenangkan? Hidup dikelilingi teknologi? Bagiku, hal seperti itu
sangat membosankan. Di abad ini, kehadiran robot bukanlah sesuatu yang baru
lagi. Kehadiran benda besi itu menggantikan segalanya. Robot hampir mengambil
alih seluruh aktitas manusia, bahkan aktifitas terkecil seperti memasak makanan
untuk keluarga sendiri. Sedangkan si manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan
untuk memimpin dan menjaga dunia ini, malah berleha-leha di atas sofa empuk
mereka sembari memainkan gadget mereka masing-masing.
Aku tak bisa menemukan
segerombolan anak yang sedang memperebutkan sebuah benda bulat bernama bola.
Pun tak bisa menjumpai anak-anak yang berkeliaran dengan orang tuanya. Mereka
terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Rasa-rasanya dunia
sedang mengucilkanku. Aku tak ubahnya itik yang kehilangan induknya; seperti
anak hilang di antra lautan manusia yang acuh tak acuh. Pikiran untuk
mengakhiri hidup hampir setiap waktu terlintas di serebrumku. Bunuh diri di
jaman—yang kata orang—seperti surga ini, rasa-rasanya tidak buruk juga.
Sampai aku bertemu
dengan pria itu, Marcus-ku yang menyenangkan.
♦♠♦
Aku bertemu dengannya
di musim gugur. Aku masih ingat aroma khas misunm gugur yang sangat candu itu.
Dirinya tampak sempurna di bawah guguran daun-daun itu. Seperti dewa yang turun dari langit. Tubuhnya tinggi
tegap, tingginya sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Kulitnya seputih
porselen. Punggung kokohnya membuat dirinya lebih cocok disebut sebagai patung
dewa Yunani dibandingkan manusia.
Aku menyukai rambut
hitam legamnya. Bagaimana rambutnya yang tampak lembut itu menari-nari bersama
angin musim gugur yang berhembus lembut. Aku menyukai kening lebar itu yang
sedikit berkerut ketika membaca bagian yang menegangkan di novelnya.
“Kau sendiri?” Kedua
rahangku langsung terkatup rapat. Aku tak mengetahui mengapa sekarang aku bisa
berada di hadapannya dan mengudarakan pertanyaan bodoh seperti itu. Apa yang
terjadi kepada tubuhku? Mengapa aku bisa—terlampau—berani menanyakan hal
seperti itu kepadanya?
Dia memberhentikan
aktifitasnya. Kepalanya bergerak ke arahku yang berdiri tolol di hadapannya.
Seperti orang dungu yang melupakan segalanya. Tingkahnya itu membuatku bisa
melihat wajah rupawannya lebih jelas.
Rahangnya yang tegas
dan kuat, bibir merah mudanya yang tebal, hidungnya yang tampak seperti dipahat
oleh pemahat profesional, serta pipi putihnya yang sedikit tembam. Surai
hitamnya yang tak tertata rapi menambah kadar kerupawanannya.
“Apakah kau berbicara
kepadaku?” Suara baritone-nya yang
halus bak beludru membelai kedua runguku lembut. Menggetarkan gendang telingaku
serta membuat kinerja jantungku bertambah dua kali lipat.
Aku terdiam.
Berpura-pura tidak mengerti apa yang baru saja ia katakan. Atau lebih tepatnya,
berpura-pura lupa dengan apa yang telah kuucapkan seperti apa yang dilakukan
oleh pengidap lethologica.
“Maaf?” Suaranya
kembali terdengar, membuyarkan pikiranku yang sedang mengumpati kerupawanannya
serta hatiku yang sedang melantunkan lagu puja kepadanya. Iris hitam kelamnya
yang serupa dengan batu obsidian bersibobrok dengan iris abu-abu kecokelatan
milikku. Dan hatiku tiba-tiba menjerit, mengagumi kerupawanannya lebih banyak
lagi.
“Ugh.” Aky gugup.
Membasahi kedua belah bibirku sebelum berkata, “Y-ya.” Tiba-tiba aku menjadi
orang gagap.
Pria tampan itu terdiam
sejenak, kemudian menjawab pertanyaan yang kulontarkan beberapa puluh detik yang
lalu. “Seperti yang kau lihat; aku sedang sendiri.” Aku
terkesiap. Menjadi was-was mengenai kemungkinan dirinya yang berhati dingin nan
angkuh seperti apa yang dilakukan oleh orang tampan lainnya.
Aku mengangguk kaku bak robot. Sebuah senyuman
kupaksakan untuk terlukis di rupaku. Mungkin, aku terlihat aneh sekarang.
“Apakah aku boleh duduk di sini?” Kedua mataku langsung terpejam sejenak guna
mengumpati ketololanku.
Salah satu alis hitam
pria itu terangkat. Wajahnya memiaskan ekspresi bingung. Kendati demikian, dia
berkata, “Tentu saja,” mempersilahkanku untuk duduk di sampingnya, meskipun
nada bicaranya terdengar sangat ragu.
Aku mengambil tempat di sampingnya dan fokusnya kembali tertuju kepada
novel yang ia baca. Awalnya, aku tak menganggap pusing dengan suasana canggung
ini. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, rasa bosan yang membunuh itu
datang, membuat otakku bekerja keras guna mencari topik pembicaraan baru.
Mungkin, mengangkat topik novel yang ia baca tak buruk juga.
Aku membungkukan punggungku demi melihat sampul novel yang terasa tidak
asing bagiku. Warna sampulnya hitam dipadukan oleh warna putih. Terdapat kereta
mainan berwarna biru di tengah sampul. Tulisan judul novel itu dicetak lebih
besar dibandingkan tulisan nama penulis yang terletak di sisi atas. “Misteri
kereta biru, ya?” Pertanyaan retoris itu mengudara secara spontan. Sontak,
kedua rahangku mengatup rapat untuk kedua kalinya. Mungkin, pria itu terusik
dengan pertanyaanku.
“Ya,” jawab pria itu membenarkan dengan jeda yang lama.
Aku merasakan sebuah senyum tipis tergores di bibirku. “Aku penggila
Agatha Christie,” kataku memancing ketertarikannya.
Mata pria itu berbinar. “LKau menyukai novel-novelnya?” Nada bicaranya
terdengar hangat, juga bersahabat. Berbeda sekali ketika dirinya pertama kali
memperdengarkan suara indahnya di kedua telingaku.
Anggukan ringan kulakukan, membenarkan apa yang baru saja ia katakan.
“Tentu saja. Novel-novelnya sangat menarik. Aku sangat menyukai novelnya yang
misteri kereta 6.40 dari Paddington.”
“Aku tidak menyangka, masih ada orang yang gemar membaca novel di jaman
‘gila’ seperti ini—kecuali aku, tentunya,”
katanya takjub.
Mataku mengerjap. “KAu bukan penggila teknologi?” tanyaku nyaris
berteriak.
“Aku penyuka teknologi.” Jeda sejenak. “Tetapi, aku tidak sampai ‘gila’
karena barang-barang canggih itu.”
Senyumanku melebar. Kedua rahangku kukatupkan rapat-rapat, menekan
jeritan penuh euforia yang siap lolos dari rongga mulutku. Tak peduli jika itu
membuatku terlihat seperti orang bodoh atau apa.
Pria ini tampan dan dirinya yang tidak tergila-gila dengan teknologi
menjadi poin tambahnya.
“Novel apa saja yang kau sukai?” Pria itu bertanya untuk kedua kalinya
setelah suasana canggung yang mematikan itu.
Aku terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. “Novel Sherlock
Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, mungkin.” Bahuku terangkat ringan.
“Beberapa minggu yang lalu, aku baru saja membaca seri novel Sherlock Holmes.
Cerita mengenai anjing dari neraka. Aku merasa tertarik untuk membaca seri
lainnya,” ceritaku tanpa diminta.
Pria itu mengangguk senang. “Aku pernah membacanya. Salah satu novel
Sherlock Holmes yang kusukai adalah kisah pengantin wanita yang mengerikan.
Apakah kau sudah membacanya?” Aku menggeleng sebagai jawabannya. “Kalau begitu,
kau harus membacanya.”
“Mengapa tidak?” Bahuku mengedik sekilas. “Aku akan ke perpustakaan
akhir pekan ini,” ujarku menerima usulannya. “Kau menyukai novel bertemakan
pembunuhan, misteri, dan detektif, ya?” tanyaku berspekulasi.
“Tak bisa disebut menyukai juga, karena hanya novel karya Agatha
Christie dan Sir Arthur saja yang kusukai.” Senyuman tipis terpatri di
wajahnya. “Aku menyukai novel bertemakan fantasi.”
Mataku kembali mengerjap untuk ke sekian kalinya. Aku bisa merasakan
binar bahagia yang berseri-seri di netraku. “Apakah kau sudah membaca novel
‘The Phantom of Opera?’” Dia menggeleng ringan. “Kalau begitu, kau harus
membacanya!”
Pria itu terkekeh sejenak, mungkin karena diriku yang meniru
perkataannya. Kemudian, kepalanya mengangguk ringan, menerima usulanku.
Beberapa detik setelahnya, matanya membulat seperti biji kenari serta celah
kecil tercipta di antara kedua belah bibirnya, membuatnya terlihat
menggemaskan. “Kita sudah berbincang sejauh ini, tetapi kita belum saling
mengenal satu sama lain.” Aku mengangguk penuh kesetujuan. Membicarakan novel
membuat rasa penasaranku mengenai namanya menguap begitu saja.
“Namaku Cha Hee-Jo.” Tanganku terjulur, mengajaknya untuk berjabat
tangan. Mungkin, tingkahku yang satu ini terlihat berani. Nemun, jauh dari
lubuk hatiku yang terdalam, aku berharap-harap cemas agar pri ini bersedia diri
untuk menjabat tanganku. Setidaknya, aku tak perlu merasakan malu yang luar
biasa karena tingkahku yang terlampau berani ini.
Pria itu menyelamatkan rasa maluku.
Tangannya ikut terulur, menjabat tanganku dengan telapak tangannya yang
besar nan hangat. Sudut bibirnya tertarik, membuat sebuah kurva di sana. Aku
tidak tahu, kemampuan jenis apa yang ia miliki sampai-sampai senyumnya itu bisa
menular kepadaku.
“Cho Kyuhyun.” Senyumanku semakin lebar tanpa diminta sama sekali. Nama
yang indah. “Aku bersekolah di Seoul of Art and Performance.”
Dan kadar binar di mataku semakin bertambah. “Oh, ya?” tanyaku tak
percaya, disambut dengan sebuah anggukan ringan. “Aku juga bersekolah di sana.”
Selanjutnya, aku tidak tahu siapa biang pembicaraan di antara kami.
Semuanya mengalir begitu saja seperti aliran anak sungai yang tenang.
Hatiku merapalkan puji syukur. Berkat mulut lancangku ini, aku dapat
berkenalan dengan Kyuhyun. Pria yang membuatku sadar bahwa bukan aku
satu-satunya manusia yang merasa muak hidup di jaman seperti ini.
Pria yang mampu membuatku sadar bahwa bunuh diri bukanlah satu-satunya
opsi yang terbaik.
♦♠♦
“Menyebalkan!” Keluhan itu keluar
dari mulutku, disusul dengan hembusan napas berat. Kami—aku dan Kyuhyun,
maksudku—sedang berada di taman belakang sekolah. Melahap makanan seraya
menghirup oksigen yang dihembuskan oleh tumbuhan hijau; beginilah cara kami
menghabiskan waktu istirahat kami. Di saat siswa ‘norma’ menghabiskan waktu istirahat
di kantin, kami justru mengasingkan diri di taman belakang. Melakukan hal yang
sederhana, seperti menikmati udara yang masih sejuk, atau bercerita mengenai
sesuatu.
Ya ampun! Bahkan, di saat mereka sedang melahap makanan mereka, ponsel
canggih yang sudah mereka anggap sebagai dewa pun masih berada di tangan
mereka.
Tak habis pikir aku dibuatnya. Apakah mereka tak bisa hidup tanpa ponsel
barang sedetik pun? Apakah kehadiran ponsel hampir menggantikan posisi oksigen
dalam hidup mereka? Mereka lebih mengerikan dibandingkan seorang pecandu
obat-obatan sekalipun.
“Masih mengenai pelajaran Matematika?” Kyuhyun menyahut beberapa belas
detik kemudian. Aku meliriknya sekilas melalui ujung mataku. Pria bernama
Kyuhyun itu sedang asyik menenggelamkan diri di novel bacaannya. Aku tak bisa
menahan kedutan di kedua ujung bibirku ketika melihat novel yang sedang ia
baca; The Phantom of Opera, novel yang kurekomendasikan satu minggu yang lalu.
Aku hampir saja tenggelam sepenuhnya dalam rasa senangku jika saja tugas
mengerikan itu tidak menghantam otakku. Menamparku kuat-kuat, menyadarkanku
bahwa seharusnya aku memasang ekspresi kesal sekarang. Bukannya terseyum tolol
layaknya seorang remaja yang merasakan jatuh cinta.
Aku berdeham kasar. Menenggelamkan senyumanku di dalam kerucutan bibir
yang kubuat. “Aku tak bisa mengerti sama sekali mengenai tugasnya.”
“Apakah sosok misterius ini benar-benar ada?” Kyuhyun mengudarakan
sebuah pertanyaan seraya membuka lembar selanjutnya.
Salah satu alisku tertarik ke atas. Aku siap melontarkan pertanyaan
balik mengenai objek pertanyaannya, jika saka pandanganku tidak turun ke arah
novel yang sedang ia pegang. “Dari apa yang beredar dan menjadi buah bibir
masyarakat, sosok misterius yang mendiami setiap gedung opera itu benar-benar
ada.”
“Imajinasi penulis begitu tinggi. Membuat si sosok misterius jatuh cinta
kepada manusia,” Kyuhyun mengeluarkan pendapat tajamnya dengan vokalnya yang
terdengar santai.
Aku mendengus kesal. “Itulah yang dikatakan penulis sesungguhnya.”
“Tidak realistis,” Kyuhyun memberikan komentar pedasnya—lagi.
Alisku menukik tajam, keningku berkerut. “Kalau kau mau membaca sesuatu
yang realistis, maka bacalah buku psikolog! Bukan novel bertemakan fantasi!”
Alih-alih membalas perkataan penuh ketidak terimaanku, Kyuhyun justru
mengeluarkan gelak tawa yang menggelitik perutnya. Kerutan yang tercipta di
keningku berkurang. Pandangan heran kutujukan kepadanya. “Apa ada yang aneh?”
tanyaku hati-hati. Takut jika remahan roti coklat yang baru saja kumakan
beberapa belas menit yang lalu tertempel di sekitar bibirku.
Kyuhyun menggeleng, namun tawanya yang pecah masih terdegar. Pria itu
terus tertawa dan aku lebih memilih diam dengan perasaan kesalku sembari
menunggu akal sehatnya kembali.
“Sudah lupa dengan kekesalanmu terhadap Matematika?” tanyanya di akhir
tawanya. Kedua mata indahnya berkilat penuh humor.
Aku terdiam. Membungkam diri barang sejenak, mencoba menyusun apa yang
baru saja terjadi dengan apa yang dimaksudkan oleh Kyuhyun.
Jadi, Kyuhyun sengaja mengalihkan pembicaraan? Sengaja membuatku kesal
agar aku melupakan perasaan jengkel dan keinginan untuk mengumpati pelajaran
hitung-hitungan itu?
Aku mengerjap pelan. Terlebih lagi ketika dirinya mengangkat tangannya
dan mendaratkan telapak tangan besarnya di rambutku. “Apakah kau tidak memahami
penjelasan tadi?” Dia bertanya dengan rasa kepeduliannya yang besar. Gerakan
mengelus ia lakukan di rambutku.
Aku mengangguk lugu. “Bagaimana dengan tugas-tugasku?”
“Apa kegunaanku juga otak jeniusku jika tidak dimanfaatkan untuk hal
seperti itu?” ujarnya ambigu.
“Huh?” Aku tak mampu menangkap maksud dari pertanyaannya.
Kyuhyun menggoreskan sebuah senyum lembut di wajahnya. “Aku bisa
mengajarkanmu Matematika.”
“Ta-tapi, kau tahu sendiri, bukan, IQ-ku tidak besar. Ak-aku tak bisa
memahami sesuatu dengan cepat.” Untuk ke sekian
kalinya, aku merutuki otakku yang tak dapat bekerja dengan cepat.
Senyum tulus Kyuhyun
terlukis. “Aku tipe orang yang penyabar.”
Aku terdiam, membeku
bersama ketololanku. Hatiku merapalkan puji syukur karena memiliki teman sebaik
Cho Kyuhyun.
Namun, pikiran mengenai
Kyuhyun yang akan berubah dan menjauhiku suatu hari nanti, menghantam otakku
secara tiba-tiba tanpa diminta sama sekali. Membuat rasa takutku timbul dan
besarnya bukan main.
“Kyuhyun,” panggilku
pelan. Lebih pantas disebut sebagai sebuah gumaman karena rendahnya frekuensi
yang kugunakan.
“Ya?” sahutnya seraya
mengalihkan fokusnya dari novelnya.
Kedua mata kami
bersibobrok. Aku menangkap raut wajah kosong yang dibiaskan oleh Kyuhyun.
“Bagaimana jika, bagaimana jika,” Aku menelan ludahku kasar. Rasa-rasanya
seperti menelan kerikil jika dihiperbolakan. Kyuhyun memandangku bingung dengan
salah satu alis hitamnya yang terangkat ke atas. “Bagaimanajika suatu hari kau
berubah dan meninggalkanku?” Aku perlu mengeluarkan tenaga hanya untuk
mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Suaraku menghilang di akhir pertanyaan,
menandakan bahwa aku sedang menyalurkan rasa cemasku kepadanya.
Kyuhyun membisu cukup
lama. Namun, ketika dia angkat bicara, perkataan penuh dengan nada tersinggung
ia lontarkan, “Jadi, kau meragukanku, begitu?” Nada bicaranya lebih tinggi
dibandingkan biasanya.
Aku gelagapan. “Tentu
saja tidak!” elakku cepat bak kereta express yang tak sudi berhenti di stasiun
kecil.
Ekspresi Kyuhyun
melunak, begitupula dengan vokalnya. “Aku tidak akan pernah melupakanmu,”
janjinya. Aku merasakan kelegaan yang luar biasa. Oksigen yang tadinya
menghilang begitu saja, kini hadir kembali. Berkeliaran dengan bebasnya. “Aku
tak akan pernah meninggalkanmu, Cha Hee-Jo. Tak akan pernah.”
Kuharap itu benar
adanya, Cho Kyuhyun. Bukan sekadar janji palsu. Karena jika kau meninggalkanku,
aku akan kembali pada diriku yang dulu.
Diriku yang teracuhkan,
hilang, dan tersesat di antara lautan manusia yang dikendalikan oleh teknologi.
♦♠♦
Satu bulan telah
berlalu. Waktu bergulir dua kali lebih cepat karena kehadiran Kyuhyun. Aku tak
lagi merapalkan ‘Cepat pulang!’ saat berada di sekolah. Aku tak lagi terlihat
seperti anak hilang.
Aku sedang berada di
dalam monorel. Bukankah sudah kuceritakan sebelumnya? Monorel tak lebih dari
sekadar barang rosokan di jaman ini. Di saat siswa maupun orang lainnya
mengendarai auto heli-car mereka, aku justru harus bersedia diri menggunakan
barang bobrok ini. Uang yang dimiliki oleh orang tuaku tak mencukupi untuk
membeli kendaraan canggih seperti itu. Terlebih lagi untuk sekadar membeli
barang—yang kata orang cukup murah—seperti ponsel canggih.
Mungkin, itu adalah
alasan di balik diriku yang tersisihkan di jaman ini. Mungkin, itu alasan di
balik perasaan benciku terhadap barang itu dan jaman ini.
Dan lagi, keluargaku telah meninggal, meninggalkan aku di dunia fana
ini. Menitipkanku dengan bibiku yang sama seperti orang kebanyakan; si penggila
ponsel canggih yang tak pernah peduli dengan kehidupanku.
Itu menambah kadar kebencianku terhadap jaman ini. Jaman yang
rasa-rasanya diciptakan hanya untuk menyiksa diriku mati-matian.
Tanganku terangkat,
mengarah ke tombol biru yang berjejer dengan tombol lainnya di panel. Menekan
tombol dan sebuah koran keluar hanya dengan menghitung beberapa sekon saja. Aku
mengambil koran dari kotak transparan itu, memposisikan dudukku senyaman
mungkin. Membaca koran sembari menunggu tiba di sekolah bukanlah ide yang
buruk.
Mataku sontak membulat,
membuat keduanya terlihat seperti biji kenari. Judul koran yang dicetak lebih
besar dibandingjkan tulisan lainnya, menarik seluruh atensiku.
‘Baru dirilis 1 jam,
500 Andropad habis terjual. Pengamat memperkirakan, demam Andropad akan mewabah
ke seluruh pelosok negri.’
Dan tiba-tiba, ketakutan
menghantamku kuat-kuat.
Aku merasakan, sesuatu
yang buruk akan terjadi.
♦♠♦
Andropad. Aku tidak
tahu kekuatan magis apa yang dimiliki benda itu sampai-sampai mampu menyihir
banyak orang untuk membelinya. Mereka yang semulanya sudah mengerikan akibat kecanduan
teknologi, kini tambah mengerikan. Benda itu menyihir semua orang untuk jadi
budaknya.
Aku sudah tiba di
sekolah. Berdiri terpaku beberapa langkah dari gerbang seraya memandang ngeri
ke arah teman-temanku yang sedang membawa sebuah benda persegi berwarna silver
di tangan mereka masing-masing.
Itu bukan ponsel
canggih mereka, aku sangat yakin mengenai hal itu.
Itu benda yang lebih
canggih dibandingkan ponsel mereka.
Andropad; si ponsel
yang lebih-lebih pintar dibandingkan ponsel generasi sebelumnya. Kata orang,
kepintarannya hampir setara dengan dewa sekalipun. Memang terdengar sangat aneh
karena terlalu dihiperbolakan. Namun, kurang lebih, begitulah kenyataannya.
Si ponsel pintar yang
memudahkan pekerjaan manusia. Si ponsel pintar yang mampu mengoperasikan sebuah
robot. Itulah penggalan-penggalan informasi yang kudapatkan dari aktitas
membaca koran tadi.
Aku risih, merasa tidak
betah berada di antara mereka. Tingkahku terlihat aneh serta menonjol, tapi
tingkahku yang sangat aneh itu tak mampu menarik atensi mereka dari benda
persegi itu. Bahkan, untuk melirik melalui ujung mata pun, mereka tak sudi.
Hanya ada satu nama
yang berkeliaran, memenuhi seluruh sudut ruang otakku. Orang yang kuyakini
mampu menghiburku.
Cho Kyuhyun.
Orang yang tak akan mampu
diperbudah dengan mudah oleh teknologi baru itu.
♦♠♦
“Kyuhyun?”
Aku benar-benar tidak
percaya dengan hal yang kulihat sekarang. Kyuhyun yang sedang memegang sebuah
Andropad di tangannya, tertangkap oleh indra penglihatku. Sekilas, melihat
Kyuhyun yang terduduk di atas rerumputan taman bukanlah sesuatu yang aneh.
Melainkan, keberadaan benda berbentuk persegi yang berada di dalam tangannya
lah yang membuat dirinya tampak aneh—bagiku.
“Ke mana perginya novelmu, Kyu?” sindirku seraya berjalan ke arahnya.
Kedua netraku memindai wajah rupawannya. Dirinya yang tampak tenggelam dalam
permainan Andropadnya juga dirinya yang terlihat senang.
“Astaga, Hee-Jo! Aku tidak pernah mengira sebelumnya jika bermain
Andropad akan semenyenangkan ini!” koarnya tanpa menggubris sindiranku
sebelumnya. Mungkin, Kyuhyun tak mendengar sindiranku atau mungkin juga, dia
memilih untuk pura-pura tidak mendengar.
Kyuhyun hanya melirikku. Hanya sekilas, karena beberapa sekon kemudian,
dirinya kembali mengarahkan atensinya kepada Andropad yang berada di tangannya.
Aku bisa menangkap keberadaan binar bahagia yang berkilat-kilat di kedua
netranya.
“Kyuhyun, bagaimana jika akhir pekan kita mengunjungi perpustakaan
kota?” Aku mengajukan usul dengan harapan Kyuhyun akan mengalihkan atensinya
dari benda sialan itu.
Namun, alih-alih tersenyum karena mengira Kyuhyun akan menerima
usulanku, aku justru harus menelan kekecewaan bulat-bulat ketika dengan nada
tanpa penyesalannya, dia menolak, “Aku tidak bisa, Hee-Jo.” Fokusnya masih
tertuju kepada Andropad-nya. “Aku ingin menghabiskan akhir pekanku dengan
Andropad baruku, Hee-Jo,” lanjutnya yang membuatku ternganga kemudian. Lalu,
dia menambahkan, “Sekarang, kita tak perlu berlelah ria mengunjungi
perpustakaan tua itu lagi, Hee-Jo!
Karena Andropad telah menyediakan segala macam buku dalam bentuk digital.”
Aku menjadi tuna wicara mendadak, tak mampu menanggapi ataupun
berkomentar dengan sikap Kyuhyun yang tampak aneh bagiku. Kedua tangan besarnya
menggoyang-goyangkan Andropadnya serata menunjukkan air wajahnya yang saat ini
tak ubahnya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesukaannnya.
“Kyuhyun,” panggilku lemah. Kepalaku menunduk, tak sanggup untuk
memandang wajahnya dan menangkap binar kebahagiannya lebih lama. “Aku akan
berada di unit kesehatan satu hari ini. Entah mengapa, aku tidak enak badan secara
tiba-tiba. Ada yang salah denganku, Kyuhyun.
Ya, ada yang salah. Entah kesalahan ini ada pada diriku atau pada diri
Kyuhyun.
Kuharap, setelah aku membuka kedua kelopak mataku ini, semua kegilaan
ini akan hil;ang bagaikan buih. Seperti mimpi buruk musim panas yang akan sirna
ketika aku terbangun, nantinya.
Ya, semoga.
♦♠♦
Ternyata, itu bukan sekadar mimpi musim panas saja. Hal mengerikan ini
terus berlanjut dan bertahan. Tak sudi tuk menghilang dari hadapanku. Harapanku
mengenai Kyuhyun yang tak akan pernah berubah; masih menjadi Kyuhyun-ku yang
hangat, Kyuhyun-ku yang selalu meyakinkanku bahwa bukan aku satu-satunya orang
yang kehilangan akal karena hidup di jaman kacau seperti ini, ternyata tak
lebih dari sebuah angan-angan semata.
Cho Kyuhyun bertambah mengerikan. Benda berbentuk persegi itu semakin
menjajahi semua orang, mengendalikan Kyuhyun-ku seperti budak. Aku tidak tahu
ke mana perginya Kyuhyun yang kukenal. Kyuhyun yang akan dengan senang hati
menemaniku pergi ke perpustakaan kota. Aku tidak mengerti, kekuatan magis apa
yang dimiliki benda itu sampai mampu merubah Kyuhyun-ku menjadi Kyuhyun yang
mengerikan, Kyuhyun yang tak kukenal.
“Cho Kyuhyun,” panggilku dengan vokal yang lemah. Lelah menunggunya
beralih dari benda kesayangannya itu. Jengah untuk menunggunya segera sadar
dari ketidak warasannya.
“Ya?” Bahkan, ketika dirinya menyahuti panggilanku, pria ini masih
enggan mengalihkan pandangannya dari benda terkutuk itu barang sedetik pun.
“Apa yang baru saja aku ceritakan?” pancingku, berharap-harap cemas
dirinya akan menjawab dengan rasa percaya dirinya yang terlampau tinggi bahwa
dia mendengar cerita yang baru saja kusampaikan. Berharap bahwa dirinya akan
menanggapi atau mengeluarkan komentar menjengkelkannya sebagai balasannya.
Dan tiba-tiba, dia menjadi bisu. Menjadi patung secara mendadak. Aku
menghela napas kasar. Sudah menduga hal ini sebelumnya. Dia tidak akan
memfokuskan diri untuk mendengar ceritaku. Fokusnya selalu tertuju kepada
Andropad kesayangannya
“Ternyata, aku baru saja berbicara dengan patung,” cemoohku sedih.
Kyuhyun masih mempertahankan aksi diamnya. Namun, hal itu tak
berlangsung lama karena di detik berikutnya, dia berkata dengan nadanya yang
menyenangkan, “Lihat, Hee-Jo! Aku baru saja mendapatkan nilai sempurna untuk
permainan yang satu ini!”
Untuk selanjutnya, aku hanya memandang lelah ke arahnya. Menunggunya
selesai dengan permainannya. Namun, penantian itu tak kunjung selesai. Bahkan,
ketika waktu mulai menginjak senja pun, dia masih sibuk dengan aktifitasnya.
Hal mengerikan ini masih berlanjut.
♦♠♦
Kukira kehadirannya di kelasku demi meminta maaf atas perlakuan anehnya
akhir-akhir ini.
Aku tak mampu menahan kedutan di kedua sudut bibirku tatkala indra
penglihatku ini menangkap keberadaan Kyuhyun di kelasku. Untuk pertama kalinya,
setelah beberapa hari yang aneh ini, Kyuhyun datang ke kelasku, mengunjungiku.
“Kyuhyun,” sambutku diiringi dengan nadaku yang bersahabat. Kyuhyun
membalas dengan anggukan ringannya. Kedua matanya berbinar-binar, menyejukan
pandanganku. Tas hitamnya dibiarkan tergantung di salah satu bahu kokohnya.
“Aku ke sini untuk memperkenalkanmu dengan seseorang,” ungkapnya dengan
vokal baritonenya yang terdengar seringan bulu.
Kemudian, seorang perempuan dengan rambut hitam legamnya yang sebahu,
keluar dari balik punggungnya. Membuatku sadar sekaligus merasa sedikit kecewa,
bahwa dirinya datang tidak seorang diri. Bahwa dirinya datang bukan dengan
tujuan mengunjungiku serta memintaku untuk melupakan segala tingkah anehnya
belakangan ini.
Perempuan dengan kulit seputih susu itu membungkukan setengah badannya.
Kemudian, memperkenalkan dirinya dengan suaranya yang terdengar ramah tamah
sekaligus sopan, “Perkenalkan, namaku Jung Hana.” Irisnya berwarna coklat madu,
parasnya nyaris menyentuh titik sempurna. Apapun yang dimiliki oleh perempuan
itu sangat sepadan dengan apa-apa saja yang dimiliki oleh Kyuhyun. Membuat
keduanya dapat dikatakan sebagai sebuah pasangan yang sangat serasi.
“Aku mengenalnya dari sebuah permainan kesukaanku di Andropad. Dia
lawanku yang kuat. Aku sampai kewalahan melawannya.” Kyuhyun bercerita tanpa
diminta, sedangkan si objek pembicaraan hanya mampu mengulas senyum malunya
seraya sedikit menundukan kepalanya. “Kau tahu, Cha Hee-Jo? Mulai sekarang, kau
tak perlu menungguku pulang. Aku akan pulang bersama Hana. Jadi, aku tak akan
merepotkanmu lebih lama dan lebih banyak lagi.” Perkataan yang sangat ringan,
namun mampu membuatku lemas seketika.
Aku memandang Kyuhyun dengan air wajah yang linglung. Perkataannya mampu
menyedot seluruh oksigen yang berkeliaran di sekelilingku, membuatku sesak
napas. Beberapa kali, aku harus membuka dan menutup kembali rahangku. Bukan
karena aku sangat-amat kesulitan bernapas, melainkan karena aku tak mampu
berkomentar apapun sebagai balasan dari perkataan ringan pria itu. Cho Kyuhyun
membuatku gagu seketika.
Hingga pada akhirnya, dengan pelipisku yang berdenyut nyeri, serta
pandanganku yang tak memiliki fokus—karena fokusku selama ini telah pergi
bersama benda terkutuk itu—, aku angkat bicara, “Maaf, Cho Kyuhyun. Aku harus
pulang sekarang. Kepalaku pusing sekali.”
Dan bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, aku mengemasi
barang-barangku secara cepat, memasukannya ke dalam tas secara asal-asalan.
Kyuhyun mengamatiku dengan pandangan herannya, namun dia tidak berkomentar
apa-apa.
Sampai aku berjalan ke arahnya, sedikit menabraknya karena rasa-rasanya
cara berjalanku sudah tak benar lagi, dia bertanya dengan nada yang menyiratkan
kekuatiran meskipun sangat sedikit kadarnya, “Cha Hee-Jo, kau kenapa?”
Dan aku memilih untuk menjadi robot usang yang terus berjalan tanpa
kendali.
Berjalan tanpa tujuan, hanya untuk menenangkan diriku yang siap meledak
bagaikan bom waktu.
♦♠♦
Aku berdiri di atas dinding pembatas Sungai Han.
Bunuh diri adalah opsi terakhirku.
Aku tak memiliki pilihan lain. Takdirku akan berakhir seperti ini, aku
akan mati secara mengenaskan.
Jaman ini benar-benar gila karena tak ada seorang pun yang mempedulikan
orang lain yang akan bunuh diri.
Aku bisa berbicara seperti itu karena pada kenyataannya hal itulah yang
sedang terjadi kepadaku. Aku berdiri, sudah bersiap untuk melompat, mengakhiri
hidupku sendiri. Namun, alih-alih mencegahku dan berusaha membujukku untuk
tidak melompat, orang-orang yang berlalu lalang di sekitar jembatan ini hanya
fokus dengan ponsel mereka masing-masing.
Yang paling miris, sebagian besar dari mereka hanya berfokus pada
Andropad kesayangan mereka.
Hidupku benar-benar mengenaskan. Jika aku tahu akhir hidupku akan
seperti ini, sudah dari awal aku akan mengakhiri hidupku sendiri. Sudah dari
awal aku bunuh diri begitu mengetahui keluargaku meninggal dalam sebuah
kecelakaan. Seharusnya,
aku tak memberikan kepercayaanku kepada Kyuhyun.
Ingatan mengenai kebersamaanku dengan Kyuhyun terputar secara otomatis bak
rol film. Memori bahagia yang pada akhirnya berakhir dengan memori yang
menyedihkan. Kedua mataku terpejam, ingin menangis, tapi tak ada satupun bening
yang keluar. Air mataku telah habis hanya untuk menangisi hidupku ini.
Aku melompat, tubuhku melayang untuk beberapa detik, kemudian, sesuatu
yang sangat dingin menusuk-nusuk kulitku hingga ke tulang-tulang seperti jarum
beracun yang menyakitkan.
Aku mati bersama kenangan bahagia sekaligus kenangan menyedihkanku. Mati
bersama air Sungai Han yang sedingin es yang menghanyutkan tubuhku serta segala
memoriku.
Hanya satu pesan dari perempuan menyedihkan sepertiku, teknologi
diciptakan untuk mendekatkan yang jauh. Akan tetapi, pada kenyataannya,
teknologilah yang membuat sesuatu yang dekat menjadi sangat jauh,
---peribahasa--. Banyak manusia yang terlampau bodoh untuk memanfaatkan
teknologi yang diciptakan untuk mereka sendiri.
Dan lagi, pertemanan sekuat baja pun, dapat hancur oleh setitik
kebahagiaan yang dibawakan oleh orang lain. Karena kebahagiaan itu akan membuat
seseorang lupa diri; lupa terhadap siapa yang mendengar segala ceritanya, lupa
terhadap siapa yang menjadi tempat keluh kesahnya. Manusia bisa menjadi angkuh
dalam sekejap, namun perlu berabad-abad untuk membuatnya melihat ke bawah,
melihat ke tempat di mana dirinya berada sebelumnya.
Mungkin, hanya ada aku; orang yang paling menyedihkan yang tersisihkan
oleh kedua hal itu. Dan aku berharap, tak ada Cha Hee-Jo lain di dunia ini.
Cukup aku yang menanggung segala hal sialan yang sangat menyedihkan ini.
♦♠♦ TAMAT ♦♠♦
0 komentar:
Posting Komentar